Jakarta, CNBC Indonesia – Asosiasi Pertambangan Indonesia atau Indonesian Mining Association (IMA) angkat suara perihal tingginya harga nikel dunia saat ini.

Pada Selasa (23/4/2024) harga nikel dunia hampir menyentuh US$ 20.000, tepatnya US$ 19.675 atau setara Rp 317,8 juta per ton (asumsi kurs Rp 16.157 per US$).

Tingginya harga nikel tersebut ditengarai lantaran ketatnya pasokan MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) dan nikel sulfat pada kuartal pertama, ditambah dengan sentimen bullish di tengah kekhawatiran atas penundaan persetujuan kuota pertambangan Indonesia.

Namun demikian, pandangan berbeda datang dari pengusaha tambang di Tanah Air.

Direktur Eksekutif IMA Hendra Sinadia mengungkapkan bahwa siklus naiknya harga nikel yang terjadi saat ini lantaran meningkatnya kebutuhan dunia untuk produksi stainless steel.

“Menurut pendapat kami, siklus kenaikan harga nikel ini lebih menggambarkan kebutuhan akan produk stainless steel merangkak naik,” ucapnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (24/4/2024).

Namun, Hendra juga mengatakan bahwa Indonesia saat ini masih belum bisa menjadi penentu harga pasar. Hal itu lantaran pemasok kebutuhan industri ataupun offtaker komoditas nikel dunia masih dipegang oleh Negara Tirai Bambu atau China.

“Secara Indonesia masih belum bisa jadi penentu harga basar dikarenakan offtaker masih mayoritas atau malah 100% tergantung pasar luar khususnya Tiongkok,” jelasnya.

Adapun, Hendra juga menilai baha pabrik-pabrik pengolahan atau pemurnian atau smelter nikel pada awal beroperasinya tidak dilakukan secara penuh lantaran pasar hilir nikel yang diklaim dalam kondisi yang tidak baik.

“Sementara pabrik-pabrik pengolahan atau pemurnian nikel juga di tahapan awal operasinya tidak full bukan karena kuota bijih (ore), tapi lebih karena pasar hilirnya (serapan) sedang tidak baik,” tandasnya.

Sementara itu, Melansir S&P Commodity Insights, lonjakan harga nikel disebabkan oleh kekhawatiran pasokan. Kekhawatiran pasokan disebabkan oleh proses persetujuan kuota pertambangan Indonesia terhambat.

Secara keseluruhan, pasar nikel yang kuat di kuartal I-2024 mendukung produk lain dalam rantai nilai, termasuk nikel pig iron, sulfat nikel, dan harga MHP.

Indonesia, produsen nikel terbesar di dunia, mengalami keterlambatan dalam persetujuan pertambangan awal tahun ini – yang mengakibatkan kekhawatiran pasokan dan lonjakan harga. Negara itu telah memperpanjang masa berlaku rencana pertambangan menjadi tiga tahun dari satu tahun, yang mengurangi frekuensi pengajuan kembali kuota tetapi memperlambat waktu persetujuan dan memperlambat persetujuan izin.

Meski demikian, harga nikel diperkirakan akan melemah seiring dengan pasokan bijih nikel akan bertambah secara bertahap di kuartal II-2024 seiring dengan peningkatan persetujuan kuota pertambangan Indonesia dan pengiriman dari Filipina yang pulih setelah musim monsun, yang juga dapat menekan harga nikel ke bawah.

“Kami mengharapkan pasar nikel primer global tetap surplus pada tahun 2024 sebesar 128.000 ton dengan harapan bahwa tekanan ke bawah pada produksi nikel primer Indonesia akan mereda seiring dengan lebih banyak kuota yang disetujui,” kata Jason Sappor, analis senior riset logam dan pertambangan yang dikutip dari S&P Global Commodity Insights.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Pabrik Terintegrasi Tambang Nikel Cs RI Gak Nambah Sejak 2020 lho..


(wia)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *