Jakarta, CNBC Indonesia – Para pengembang di sektor perumahan, yakni Real Estat Indonesia (REI) mengeluarkan jurus baru untuk membangkitkan sektor perumahan, yakni merilis ‘jurus’ baru dengan nama Propertinomic. Joko Suranto, Ketum REI menyebut bahwa jurus ini bisa mendorong perputaran ekonomi di sektor properti.

“Kami dari REI mengusulkan paradigma baru propertinomic, di mana dengan pendekatan industri properti sebagai pengungkit ekonomi. Dan saat ini kami sedang melakukan riset bagaimana sebenarnya kontribusi properti ini sehingga bisa memberikan dan diakui sebagai pengungkit ekonomi,” ungkap Joko dalam Propertinomic, Rabu (24/4/2024).

Jurus baru Propertinomic ini mulai muncul pada tahun 2023 hingga 2024 ini. Dalam ulang tahun REI, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa REI harus menjadi ujung tombak bagaimana backlog ini bisa terurai. REI juga harus bisa menjalin sinergi terhadap stakeholder, backlog bisa turun, dan juga bisa memberikan pertumbuhan ekonomi. Melalui propertinomic ini, diharapkan backlog bisa turun.

“Dari data yang ada tadi kita menyimpulkan bahwa properti ini adalah big giant, jadi raksasa yang sedang ditidurkan, Dan kita tahu kenapa saya sebut seperti itu, karena industri properti ini adalah industri padat karya. Backbone-nya adalah 185 industri. Ketika industri menjadi sebuah proyek yang mendapatkan support secara kebijakan, maka mesin ekonominya yang tumbuh dahulu itu adalah tadi backbone-nya yang 185 industri tadi,” ucap CEO Buana Kassiti Group tersebut.




A worker mixes cement at a housing project in Tajur Halang neighbourhood, south of Jakarta, Indonesia, July 16, 2018. Picture taken July 16, 2018. REUTERS/Willy KurniawanFoto: REUTERS/Willy Kurniawan
A worker mixes cement at a housing project in Tajur Halang neighbourhood, south of Jakarta, Indonesia, July 16, 2018. Picture taken July 16, 2018. REUTERS/Willy Kurniawan

Adapun paradigma propertinomic ini mengedepankan 4 pilar. Pilar pertama adalah institusional yakni harus ada sebuah kementerian ataupun badan yang punya kapasitas, kewenangan untuk merencanakan, untuk menganggarkan, juga mengorkestasi ataupun mengeksekusi bagaimana program perumahan itu.

Pilar kedua adalah dari sisi penganggaran, adapun anggaran properti yang berupa subsidi ini saat ini hanya 0,4% dari APBN. Sedangkan anggaran dari Kemenpera, maka tidak lebih dari 10%. Berarti harus bisa ditingkatkan, karena di negara lain bisa di atas 2,5%, bahkan ada yang 4%

“Yang ketiga adalah dari sisi kebijakan, seperti kita ketahui kebijakan yang berkaitan dengan perizinan, berkaitan dengan perumahan ini saat ini ada di 6 kementerian. Bahkan yang mengatur perumahan aja semakin tersebar badan-badan ini,” kata Joko.

Pilar keempat adalah properti khususnya perumahan harus dijadikan prioritas. Kalau dijadikan prioritas, maka sektor properti akan menciptakan hasil yang lebih besar lagi.

“Pak Bahril (Menteri Investasi Bahlil Lahadalia) bahwa investasi dalam negeri dari property itu adalah Rp115 triliun. Artinya, itu adalah investasi yang yearly, setiap tahun ada dan itu selalu berkembang. Nah makanya kami dorong betul untuk ini menjadi sebuah kepahaman, kesepahaman, karena begitu ada kesepahaman maka akan ada keberpihakan, begitu ada keberpihakan maka akan ada kebijakan,” sebut Joko.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Video: Tahun Politik, Sektor Properti Diramal Masih Energik


(fys/wur)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *